Kupas Kriminal//Pangkal Pinang
PANGKALPINANG, BANGKA BELITUNG — Sebuah suara azan kadang hanya terdengar beberapa menit, tetapi pesan yang dibawanya dapat tinggal jauh lebih lama di dalam ingatan.
Begitu pula dengan perjalanan M. Yasir Mustafa, S.Pd.I., M.AP., Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Sekretaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ).
Di tengah kesibukannya sebagai aparatur pemerintahan, Yasir memilih membawa kemampuan yang selama ini hidup di ruang pengabdian ke panggung nasional.
Ia tampil dalam MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional Tahun 2026 di Sulawesi Selatan.
Hasilnya bukan sekadar tepuk tangan.
Pada Minggu (30/8/2026), namanya diumumkan sebagai Juara III Nasional Cabang Adzan.
Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Kepala BKN sekaligus Ketua Umum Dewan Pengurus KORPRI Nasional Prof. Dr. Zudan Arif Fakhrulloh bersama Menteri Agama Nazaruddin Umar.
Bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, capaian itu menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab dari panggung nasional, nama Babel kembali disebut melalui prestasi putra daerahnya.
Namun bagi Yasir, kemenangan itu bukanlah tujuan pertama.
Ada niat yang lebih sederhana.
Berdakwah.
Melantunkan kalimat Allah.
Memberikan kemampuan terbaik yang dimilikinya.
“Saya hadir ke Makassar ini niatnya dakwah, melantunkan kalimat Allah. Tetapi Allah memberikan penghargaan kepada saya berupa juara tiga. Saya bersyukur kepada Allah atas berkah dan nikmat juara ini,” ujar Yasir kepada awak media, Minggu (30/8/2026).

Perjalanan menuju podium nasional itu melewati persaingan yang tidak ringan.
Sekitar 70 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Cabang Adzan. Yasir berhasil melewati tahapan kompetisi hingga masuk dalam enam besar nasional.
Di babak final, ia tampil dengan kemampuan terbaik.
Irama Bayati menjadi bagian dari lantunan yang dibawakannya. Pada bagian lainnya, ia menggunakan irama Rast.
Di panggung tersebut, statusnya sebagai Kepala Biro Kesra seakan melebur.
Ia berdiri sebagai peserta.
Berlatih seperti peserta lainnya.
Menunggu penilaian.
Menerima hasil dengan lapang dada.
Hingga malam pengumuman tiba.
Namanya dipanggil sebagai Juara III Nasional.
Sebuah hasil yang menurutnya merupakan bentuk nikmat yang datang setelah ikhtiar.
“Saya tidak datang dengan pikiran harus juara. Saya datang untuk berdakwah dan memberikan yang terbaik. Kalau kemudian Allah memberikan juara, tentu saya sangat bersyukur,” tuturnya.
Di balik gemerlap panggung nasional, terdapat kisah sederhana yang membuat kemenangan tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan.
Yasir menerima bonus sebesar Rp10 juta.
Namun bonus itu segera memiliki makna lain.
Ia melihatnya sebagai rezeki untuk membantu kebutuhan pendidikan anaknya yang akan memasuki perguruan tinggi.
“Ini rezeki anak saya yang mau masuk kuliah. Ternyata inilah nikmat Allah yang tidak terduga,” katanya.
Piala menjadi simbol prestasi.
Bonus menjadi rezeki.
Tetapi bagi seorang ayah, keduanya memiliki makna yang lebih dalam: sebuah ikhtiar untuk masa depan keluarga.
Di situlah kemenangan tidak lagi hanya berbicara tentang angka dan peringkat.
Ia berbicara tentang doa seorang ayah.
Tentang pendidikan seorang anak.
Tentang keyakinan bahwa rezeki dapat datang melalui jalan yang tidak pernah disangka.
Keikutsertaan Yasir menjadi perhatian karena ia tidak datang sebagai ASN biasa.
Ia menjabat Kepala Biro Kesra.
Di tengah rutinitas pemerintahan, ia tetap bersedia turun langsung mengikuti kompetisi.
Keberanian tersebut menjadi contoh bahwa jabatan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti mengembangkan diri.
Seorang pemimpin tetap harus memiliki kerendahan hati untuk belajar.
Tetap mau berlatih.
Tetap berani tampil.
Tetap siap menerima penilaian.
Yasir pun mengajak para peserta MTQ dan generasi muda agar tidak menjadikan kompetisi hanya sebagai arena mengejar kemenangan.
“Apa pun yang kita lakukan, niatkan karena Allah sehingga kita bisa tampil lebih maksimal. Jangan hanya mengejar penghargaan. Yang penting adalah bagaimana kita memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Pesan itu sekaligus menjadi pendidikan karakter.
Sebab keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang mendapatkan piala.
Kadang keberhasilan terbesar adalah ketika seseorang mampu memberikan seluruh kemampuannya tanpa kehilangan ketulusan.
Ada pesan yang secara khusus disebut Yasir sebagai sumber motivasi dalam mengikuti kompetisi tersebut.
Pesan itu datang dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Dr. HC Hidayat Arsani ketika memberikan motivasi kepada anak-anak Paskibraka.
Pesan tersebut berbunyi sederhana.
Semangat. Jangan gengsi. Jangan malu. Hidup harus berkarya. Jangan mundur dan pantang menyerah. Berbakti kepada orang tua. Jadilah anak yang saleh. Jadilah anak yang berguna bagi bangsa dan negara.
Bagi Yasir, pesan itu bukan sekadar kata-kata.
Ia menjadi bekal mental.
“Yang paling memotivasi saya adalah semangat, jangan mundur pantang menyerah, dan jadilah anak yang saleh. Itu yang saya pegang,” ungkapnya.
Tiga pesan tersebut kemudian menjadi energi ketika ia menghadapi puluhan peserta dari seluruh Indonesia.
Semangat untuk tampil.
Keberanian untuk mencoba.
Keteguhan untuk tidak mundur.
Kesadaran bahwa setiap karya harus membawa manfaat.
Tiga Prestasi untuk Babel
Yasir bukan satu-satunya wakil Babel yang mencatatkan prestasi pada MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional Tahun 2026.
Berdasarkan hasil pengumuman final, kontingen Babel mencatat tiga capaian.
M. Yasir Mustafa, S.Pd.I., M.AP. meraih Juara III Nasional Cabang Adzan.
Ela Isnani Munawwaroh, M.Pd. meraih Juara Harapan I Cabang Hifdz Al-Quran Golongan Juz 30 Wanita.
Sedangkan Muhammad Amin, M.Pd.I. meraih Juara Harapan II Cabang Khotbah Jumat.
Ketiganya menjadi representasi bahwa potensi sumber daya manusia Babel mampu bersaing di tingkat nasional.
Prestasi tersebut juga memperlihatkan bahwa pembangunan manusia memiliki banyak wajah.
Ada pendidikan.
Ada kompetensi.
Ada spiritualitas.
Ada karakter.
Ada keberanian untuk menunjukkan kemampuan di ruang yang lebih luas.
Pembangunan daerah sering kali dilihat melalui pembangunan fisik.
Jalan dibangun.
Gedung didirikan.
Fasilitas diperluas.
Namun ada pembangunan yang jauh lebih mendasar untuk membangun manusia.
Manusia yang tidak cepat puas.
Manusia yang tidak berhenti belajar.
Manusia yang berani mencoba.
Manusia yang pantang menyerah.
Manusia yang memahami bahwa kemampuan yang dimilikinya bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Prestasi Yasir memberi gambaran bahwa seorang ASN dapat menjadi bagian dari pembangunan manusia melalui keteladanan.
Ia menunjukkan bahwa seorang pejabat tetap dapat menjadi pembelajar.
Bahwa birokrasi tidak harus identik dengan rutinitas.
Bahwa profesionalitas dapat berjalan berdampingan dengan nilai spiritual.
Bahwa prestasi pribadi dapat dikembalikan menjadi kebanggaan bagi daerah.
Ada makna simbolik yang kuat dari cabang yang dipilih Yasir.
Azan adalah panggilan.
Panggilan untuk mengingat Tuhan.
Panggilan untuk meninggalkan kesibukan sesaat.
Panggilan untuk kembali kepada nilai-nilai kebaikan.
Dalam konteks pembangunan, azan juga dapat dimaknai sebagai panggilan untuk mengabdi.
Panggilan bagi ASN agar bekerja dengan integritas.
Panggilan bagi generasi muda agar berani berkarya.
Panggilan bagi pemimpin agar terus membangun kualitas manusianya.
Panggilan bagi masyarakat agar tidak pernah lelah mendukung putra-putri daerah.
Yasir pun menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Sekretaris Daerah, serta masyarakat Babel yang telah memberikan dukungan dan doa.
“Terima kasih kepada Pak Gubernur yang telah memberikan support dalam kegiatan ini, kepada Pak Sekda, dan seluruh masyarakat Bangka Belitung atas doa dan dukungannya,” ujarnya.
Pada Minggu (30/8/2026), sebuah nama dari Kepulauan Bangka Belitung berdiri di podium nasional.
M. Yasir Mustafa.
Juara III Nasional Cabang Adzan.
Namun kemenangan itu sesungguhnya bukan hanya miliknya.
Ada keluarga yang ikut bahagia.
Ada masyarakat Babel yang ikut bangga.
Ada institusi yang mendapat kehormatan.
Ada generasi muda yang mendapatkan pelajaran.
Bahwa untuk berkarya, seseorang tidak harus menunggu menjadi sempurna.
Untuk berprestasi, seseorang tidak harus meninggalkan nilai-nilai yang diyakininya.
Untuk mengabdi, seseorang tidak harus selalu berada di belakang meja.
Terkadang, pengabdian justru menemukan bentuknya ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman dan berkata.
Saya siap memberikan yang terbaik.
Dari Makassar, suara azan itu akhirnya pulang membawa peringkat ketiga.
Tetapi pesan yang dibawanya jauh lebih tinggi daripada sebuah podium:
Semangat. Jangan mundur. Pantang menyerah. Jadilah pribadi yang saleh. Berbaktilah kepada orang tua. Jadilah manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.
Sebab pembangunan sejati bukan hanya tentang seberapa megah sebuah daerah berdiri.
Pembangunan sejati tentang seberapa kuat manusia di dalamnya mampu berdiri, berkarya dan memberi manfaat.
(Kemis dan Tim)









